Wednesday, November 18, 2009

Greed is king!!

Seperti pelajaran IPS di waktu SD, kebutuhan dasar manusia itu adalah Sandang, Pangan, Papan. Sandang dan Pangan itu masih masuk hitungan mudah didapatkan untuk mayoritas penduduk Jakarta. Tapi bila bercerita tentang papan, maka ceritanya lain lagi.

Jakarta itu penuh padat sesak, jumlah orang kaya banyak sekali disini, jumlah orang miskin lebih banyak lagi.

Pertama kali datang ke Jakarta tentunya yang pertama saya lakukan adalah mencari tempat berlindung dulu. Target pertama adalah mencari apartemen-apartemen disekitaran tempat bekerja. Untuk tipe 2 kamar harga pasarannya adalah sekitar 5-6 Juta rupiah sebulan. Woow...mahal banget. Tapi yang bikin kaget lagi sebenernya, di Jakarta itu banyaak sekali apartemen kosong.

Kenapa kosong? karena para pemiliknya itu biasanya udah punya rumah lagi yang lebih besar.
Nah disinilah kerakusan orang-orang kaya terlihat. Orang-orang yang berlebihan uang itu meskipun sudah punya rumah yang mereka tinggali saat ini, selalu mencari properti properti baru untuk dibeli dengan tujuan menambah aset kekayaan mereka karena nilainya yang terus menerus naik.

Orang-orang yang berlebihan uang ini terus membeli dan membeli, membuat harga properti di Indonesia terus menerus naik. Dan tentunya ini membuat para kaum yang pas-pasan sangat kesulitan mengejar kenaikan harga, termasuk saya sendiri.

Ah... memang, pada dasarnya semua manusia itu kapitalis.. rakus untuk mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri. Padahal tiap hari tidur juga cuma butuh satu kasur, udah meninggal nanti cuma butuh lubang 1 x 2 meter. Tapi pengennya beli terus sebanyak banyaknya...

Episode Jakarta

Udah lama ngga bikin blog. Terus iseng-iseng membaca entri di awal tahun, ternyata ada satu rencana yang gagal di tahun ini... iya...yaitu tidak pindah perusahaan.

Pada suatu hari di bulan April, tiba-tiba saja ada telepon dari seorang wanita di Singapura yang mengabarkan bahwa ada sebuah perusahaan di Jakarta yang sedang mencari cover boy ganteng untuk menjadi salah satu stafnya. Dan dia bertanya apakah saya tertarik? Karena menganggap itu hanyalah sebuah basa basi belaka, lalu saya bilang... yah kenapa ngga?

Tidak disangka-sangka seminggu kemudian diundanglah saya untuk wawancara di Jakarta. Wawan cara berlanjut pada medical check up dan berlanjut pada akhirnya surat penawaran kerja hanya dalam waktu yang begitu singkat. Seriusan ini teh??? Kenapa bisa secepat ini dan datang dari arah yg tidak disangka-sangka.

Mundur ke beberapa tahun sebelumnya. Kami berdua memang pernah berwacana untuk mencari kerja di Jakarta saja. Alasannya simple, kita berdua memang berasal dari Bandung. Dengan hidup di Jakarta berarti dekat dengan orang tua dan bisa sering-sering main ke Bandung. Tapi jalan hidup kami berkata lain, rejeki untuk saya ternyata ada di Balikpapan, dan kemudian Istri pun dapat kerja yang lumayan di Balikpapan. Dan kami pun akhirnya mencoba untuk settle di Balikpapan.

Dengan segala kekurangannya sebagai kota, kami pun sebenarnya menikmati tinggal di Balikpapan. Kami sangat menikmati kesederhanaan dan kepraktisan hidup di Balikpapan. Orang-orangnya begitu sederhana, dan laju hidup di kota ini begitu santai dan tidak tergesa-gesa. Meskipun tentunya untuk bersenang-senang tidak bisa seperti di Jakarta atau Bandung.

Lalu ketika tiba pilihan untuk kembali ke Jakarta, sebenarnya agak berat untuk kami berdua. Apalagi dengan kembali ke Jakarta artinya Istri harus berhenti bekerja. Istri tidak bekerja itu adalah blessing dan a little disaster secara bersamaan untuk saya sebagai kepala keluarga. Blessing karena saya bisa tenang memikirkan anak saya, yang bisa diasuh langsung oleh ibunya ketimbang selama di Balikpapan hanya diasuh oleh satu pengasuh dan satu asisten di rumah. A little disaster karena income keluarga akan berkurang drastis dan saya harus mengubah strategi pengaturan keuangan keluarga.

Setelah cukup lama berpikir dan banyak pertimbangan dengan berbagai hasil brainstorming antara saya dengan istri, akhirnya kami berdua memutuskan untuk pindah kembali ke pulau Jawa.

Berat rasanya meninggalkan Balikpapan, kami sudah punya banyak teman disana, teman yang lebih dari sekedar teman. Mereka sudah seperti keluarga untuk kami, bahkan lebih dekat daripada sepupu-sepupu kami yg jauh. Dulu saya sempat ragu-ragu untuk datang dan bekerja di Balikpapan, tapi kenyataannya saya begitu menyukai Balikpapan, anak kami tercinta pun lahir di kota ini.

Dan sekarang tibalah kami di episode baru kehidupan berjuang di tengah ibu kota. Seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya, hidup di kota lebih besar dan lebih banyak fasilitas tidak berarti hidup lebih mudah lagi. Dulu di Balikpapan itu serba mahal tapi pos pengeluaran tidak banyak. Di Jakarta ini harga tidak lebih murah daripada balikpapan, dan pos pengeluaran luar biasa banyaknya.

Pepatah lama tetap berlaku, untuk setiap yang kita inginkan maka ada harganya. Untuk bisa lebih dekat dengan orang tua di Bandung, itu juga ada harganya. Dan semua harga itu harus dibayar.

Jadi disinilah saya sekarang yang selama ini seperti katak dalam tempurung hidup dalam kesederhanaan Balikpapan, sekarang mulai gelisah menghadapi beratnya persaingan di Jakarta.

Oh baby... it's a wild world out there...

Friday, March 06, 2009

Kontrak Hidup

Di dalam suatu kerjasama bisnis antara penyedia jasa dan klien, biasanya ada dua term yang digunakan untuk menyatakan nilai sebuah kontrak. Yang pertama adalah masa kontrak berjalan yang diberikan, dan yang kedua adalah besaran nilai dari kontrak itu sendiri.

Contoh: Pertamina memberikan kontrak pengadaan jasa penyemenan sumur kepada Schlumberger dengan nilai kontrak US$ 2Juta dalam masa waktu 2 tahun.

Ada dua hal yang akan menyebabkan kontrak itu berakhir:
  1. Jika nilai total jasa yang sudah diberikan telah mencapai angka US$ 2 Juta, meskipun belum mencapai waktu 2 tahun.
  2. Waktu 2 tahun sudah terlewati, meskipun nilai total jasa yang diberikan belum mencapai US$ 2 Juta.
Jika salah satu point di atas telah tercapai, maka kontrak dinyatakan telah berakhir dan harus diperbaharui jika kerjasama ingin dilanjutkan.

Lalu apa hubungannya dengan kontrak hidup??

Saya hanya membuat pengandaian. Mungkin saja sebenarnya setiap kita itu telah memiliki kontrak hidup yang dibuat dengan tuhan, yang mungkin termnya sama dengan contoh term kontrak kerjasama di atas.

Bahwa tuhan telah memberikan kontrak kepada setiap kita yang angkanya berbeda-beda.
Dan term kontrak itu berupa jatah waktu hidup dan jatah rezeki.

Misal: Kontrak hidup Mr.A, dengan jangka waktu hidup 82 tahun dan Jatah rezeki sebesar Rp. 50 miliar.

Kontrak hidup Mr. B, dengan jangka waktu hidup 75 tahun, dan jatah rezeki sebesar Rp. 120 miliar.

Kenapa kok setiap orang berbeda-beda. Karena kita tahu, Tuhan itu maha suka-suka. Semuanya ya terserah Dia, kan Dia yang maha mengatur.

Lalu cerita berlanjut, seandainya Mr. A dan Mr. B dilahirkan pada hari dan jam yang sama. Lalu 40 tahun kemudian, tentunya hidup Mr. A dan Mr. B tidak akan benar-benar sama.

Cerita Mr.A (Jatah umur 82 tahun, jatah rezeki Rp 50 Miliar)
Mr.A adalah orang yang pandai berbisnis, dan kemudian ia mencalonkan diri menjadi caleg muda diumurnya yang ke 35 tahun. Lalu terpilih sebagai wakil rakyat. Saat telah menjadi wakil rakyat, total kekayaannya yang dilaporkan mencapai Rp. 45 Miliar. ( Disini ia telah mendekati jatah rezeki yang diberikan kepadanya), lalu kemudian setelah menjadi wakil rakyat, Mr. A malah semakin serakah, ia terlibat kasus korupsi sebesar Rp. 15 Miliar dalam rencana pengalih fungsian hutan lindung menjadi daerah komersial. Lalu Mr.A pun melampaui jatah kontrak rezekinya dengan Tuhan sebesar 10 Miliar karena dia telah mengumpulkan harta sebesar 60 Miliar.

Lalu apa yang terjadi, sesuai dengan kesepakatannya dengan Tuhan, maka kontrak hidupnya harus berakhir. Mr. A kemudian masuk penjara, hartanya yang melebihi dari jatah kontraknya pun kemudian diambil kembali oleh tuhan dengan berupa bisnisnya yang hancur, lalu kesehatanya menurun, dan dia butuh uang bermilyar-milyar untuk berobat, hingga akhirnya ia jatuh miskin dan kemudian meninggal di usianya yang hanya baru 52 tahun, padahal kontrak awal jatah hidupnya adalah selama 82 tahun.

Cerita Mr.B (Jatah umur 75 tahun, jatah rezeki Rp 120 Miliar)

Lain cerita dengan Mr. A, Mr.B justru bukan orang yang serakah, dia hanya bekerja sebagai guru yang berbakti dengan sepenuh hati. Hingga usia 52 tahun total kekayaanya hanya mencapai angka tidak lebih dari Rp. 100 Juta saja. Mr. B juga adalah seorang yang rajin berolahraga dan menjaga kesehatan

Di usianya yang ke 53 tahun, tiba-tiba Mr.B dianugerahi sebagai guru teladan nasional dan mendapatkan hadiah sebesar 1 Miliar dari pemerintah, dan 10 Miliar lagi dari para sponsor dan Donatur. Mr. B lalu menjelma menjadi seorang yang berkelebihan. Kekayaanya sekarang mencapai 11 Miliar, dan masih jauh dari nilai kontrak hidupnya. Ia pun lalu menginvestasikan uangnya dengan tujuan agar dapat menampung dan membantu banyak tenaga kerja.

Lalu kekayaannya pun terus bertambah tahun demi tahun, sehingga memberikan hidup yang nyaman dan memerikan kesempatan kepadanya untuk beribadah dengan leluasa. Dengan harta yang banyak, tentunya akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi seseorang untuk beribadah dan menjadi orang yang banyak pahala.

Sampai di usianya 72 tahun, kekayaannya telah mencapai 120 Miliar. Ia tidak terlalu serakah dimasa mudanya, dan begitu menikmati hidup di masa tuanya. Dan lalu hidupnya pun berakhir.


Ilustrasi di atas hanya pengandaian. Saya hanya berandai-andai, karena semua kita meyakini bahwa setiap orang telah memiliki jatah umur dan rezekinya masing-masing. Saya berpikiran, jangan-jangan jatah hidup kita juga dipengaruhi oleh cara kita mencari rezeki, jika kita terlalu serakah, nantinya justru di sisa hidup kita malah akan justru menderita, apalagi jika harta yang didapat itu bukan dengan cara yang halal. Tuhan sebagai pemiliknya tentu akan meminta balik dengan cara yang Ia kehendaki.

Tuesday, February 03, 2009

Mainan Baru


Biasanya selama ini internetan cuma pake nokia 6120c, cuma berhubung kasian sama si Nokia yang udah pernah kecemplung bak mandi dan sering banget digeber buat internetan sampe menjerit jerit kehabisan batere, terus ganti2 kartu antara IM2 broom dan Kartu Halo, maka diputuskanlah untuk lebih baik membeli modem 3.5G beneran.
Kemarin baru aja beli modem 3.5G Sierra Aircard 881u. Di Jakarta dan Bandung harganya udah dibawah sejutaan, tapi berhubung di balikpapan selalu ada koefisien pengali 40%, (yang berarti rata barang di Balikpapan lebih mahal daripada harga di pulau Jawa paling tidak 40%), maka harganya disini jadi 1.2 Juta.. hu hu....

Sempet ragu2 antara mau beli Huawei e220 atau beli Sierra 881u. Yang Huawei itu pasaran banget, apalagi dibundling sama IM2 dan telkomsel flash. Hampir semua orang pake dan semua bikin testimoni yang mendukung. DI BPN harganya bisa sampe 1.3 Juta untuk Huawei ini.

Berhubung pengen berhemat 100 ribu, jadi deh beli Sierra Aircard 881u aja... hehe.. lumayan buat beli susunya mika. Sebenernya di Internet udah nemu yang mau jual 750 ribu. Hanya berhubung posisi di balikpapan dan yang jual ada di Jakarta, ntar kalo alatnya ngga berfungsi malah jadi mahal buat ngadunya. Lagian sekalian ikut berkontribusi ke ekonomi balikpapan..:D
Sewaktu beli si engkonya bilang kalo modem ini bisa support sampai 7.2 Mbps, walopun ngga ngaruh juga karena dirumah cuma pake paket unlimited yang cuma sampe 256 kbps. Terus ditest sama dia di laptop di tokonya.. ternyata cuma 3.6Mbps aja.. hehehe... Si engkonya yang udah kadung promosi kalo tu modem bisa 7.2 Mbps jadi malu gitu. Dalem hati, nih si engko rada2 bego juga, kan kalo mau 7.2 Mbps tinggal disetting aja.
Nyampe di rumah, langsung deh gwa setting 7.2Mbps, (walapun tahu ngga ada pengaruhnya sama sekali juga.. cuma kali2 aja Indosat atau Telkomsel khilaf menjebolkan limit 256 kbpsnya melebihi kuota. Browsing-browsing bentar.. ternyata untuk modem ini ada fitur tambahannya lagi, yaitu ada GPS chip didalemnya.
Langsung aja cari update firmware, cari Software Garmin bajakan, download peta Indonesia, dan akhirnya..
Wuhuu... mama akhirnya deden punya GPS buat di mobil... tapi kemana2 bawa laptop.. duuh!




Thursday, January 29, 2009

Kenapa berebut di Jalan yang ramai?

Loket ke neraka penuh sesak...
Banyak manusia antri...
Rebut rebutan, cakar cakaran...
Takut gak kebagian kursi...

Tiket ke neraka mahal...
Harus merogoh kantong berjuta juta...
Untuk dapat ikut perjalan kesana...

Maksiat itu mahal...
Judi itu mahal...
Zina itu mahal...
Korupsi itu mahal...
Dusta itu mahal...

Tetap orang-orang berbondong menuju neraka...

Jalan ke syurga sunyi...
Sepiii...
Jalannya lebar, mulus dan bersih...
Tiketnya murah, tak perlu keluar uang banyak...
Loketnya bersih, ada AC,
Pelayannya ramah...

Tapi mengapa amat sedikit yang antri di loket ini???

Puasa itu murah...
Sholat itu murah...
Sedekah itu murah...
Senyum itu murah...
Jujur itu murah...

Ternyata Nafsu telah memutar balik semua tatapan...

Yang buruk terlihat indah...
Yang baik terlihat sukar...

Ditempat ini aku baru sadar...
Bahwa jalan ke syurga sepi...
Jalan ke neraka ramai...