Friday, March 06, 2009

Kontrak Hidup

Di dalam suatu kerjasama bisnis antara penyedia jasa dan klien, biasanya ada dua term yang digunakan untuk menyatakan nilai sebuah kontrak. Yang pertama adalah masa kontrak berjalan yang diberikan, dan yang kedua adalah besaran nilai dari kontrak itu sendiri.

Contoh: Pertamina memberikan kontrak pengadaan jasa penyemenan sumur kepada Schlumberger dengan nilai kontrak US$ 2Juta dalam masa waktu 2 tahun.

Ada dua hal yang akan menyebabkan kontrak itu berakhir:
  1. Jika nilai total jasa yang sudah diberikan telah mencapai angka US$ 2 Juta, meskipun belum mencapai waktu 2 tahun.
  2. Waktu 2 tahun sudah terlewati, meskipun nilai total jasa yang diberikan belum mencapai US$ 2 Juta.
Jika salah satu point di atas telah tercapai, maka kontrak dinyatakan telah berakhir dan harus diperbaharui jika kerjasama ingin dilanjutkan.

Lalu apa hubungannya dengan kontrak hidup??

Saya hanya membuat pengandaian. Mungkin saja sebenarnya setiap kita itu telah memiliki kontrak hidup yang dibuat dengan tuhan, yang mungkin termnya sama dengan contoh term kontrak kerjasama di atas.

Bahwa tuhan telah memberikan kontrak kepada setiap kita yang angkanya berbeda-beda.
Dan term kontrak itu berupa jatah waktu hidup dan jatah rezeki.

Misal: Kontrak hidup Mr.A, dengan jangka waktu hidup 82 tahun dan Jatah rezeki sebesar Rp. 50 miliar.

Kontrak hidup Mr. B, dengan jangka waktu hidup 75 tahun, dan jatah rezeki sebesar Rp. 120 miliar.

Kenapa kok setiap orang berbeda-beda. Karena kita tahu, Tuhan itu maha suka-suka. Semuanya ya terserah Dia, kan Dia yang maha mengatur.

Lalu cerita berlanjut, seandainya Mr. A dan Mr. B dilahirkan pada hari dan jam yang sama. Lalu 40 tahun kemudian, tentunya hidup Mr. A dan Mr. B tidak akan benar-benar sama.

Cerita Mr.A (Jatah umur 82 tahun, jatah rezeki Rp 50 Miliar)
Mr.A adalah orang yang pandai berbisnis, dan kemudian ia mencalonkan diri menjadi caleg muda diumurnya yang ke 35 tahun. Lalu terpilih sebagai wakil rakyat. Saat telah menjadi wakil rakyat, total kekayaannya yang dilaporkan mencapai Rp. 45 Miliar. ( Disini ia telah mendekati jatah rezeki yang diberikan kepadanya), lalu kemudian setelah menjadi wakil rakyat, Mr. A malah semakin serakah, ia terlibat kasus korupsi sebesar Rp. 15 Miliar dalam rencana pengalih fungsian hutan lindung menjadi daerah komersial. Lalu Mr.A pun melampaui jatah kontrak rezekinya dengan Tuhan sebesar 10 Miliar karena dia telah mengumpulkan harta sebesar 60 Miliar.

Lalu apa yang terjadi, sesuai dengan kesepakatannya dengan Tuhan, maka kontrak hidupnya harus berakhir. Mr. A kemudian masuk penjara, hartanya yang melebihi dari jatah kontraknya pun kemudian diambil kembali oleh tuhan dengan berupa bisnisnya yang hancur, lalu kesehatanya menurun, dan dia butuh uang bermilyar-milyar untuk berobat, hingga akhirnya ia jatuh miskin dan kemudian meninggal di usianya yang hanya baru 52 tahun, padahal kontrak awal jatah hidupnya adalah selama 82 tahun.

Cerita Mr.B (Jatah umur 75 tahun, jatah rezeki Rp 120 Miliar)

Lain cerita dengan Mr. A, Mr.B justru bukan orang yang serakah, dia hanya bekerja sebagai guru yang berbakti dengan sepenuh hati. Hingga usia 52 tahun total kekayaanya hanya mencapai angka tidak lebih dari Rp. 100 Juta saja. Mr. B juga adalah seorang yang rajin berolahraga dan menjaga kesehatan

Di usianya yang ke 53 tahun, tiba-tiba Mr.B dianugerahi sebagai guru teladan nasional dan mendapatkan hadiah sebesar 1 Miliar dari pemerintah, dan 10 Miliar lagi dari para sponsor dan Donatur. Mr. B lalu menjelma menjadi seorang yang berkelebihan. Kekayaanya sekarang mencapai 11 Miliar, dan masih jauh dari nilai kontrak hidupnya. Ia pun lalu menginvestasikan uangnya dengan tujuan agar dapat menampung dan membantu banyak tenaga kerja.

Lalu kekayaannya pun terus bertambah tahun demi tahun, sehingga memberikan hidup yang nyaman dan memerikan kesempatan kepadanya untuk beribadah dengan leluasa. Dengan harta yang banyak, tentunya akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi seseorang untuk beribadah dan menjadi orang yang banyak pahala.

Sampai di usianya 72 tahun, kekayaannya telah mencapai 120 Miliar. Ia tidak terlalu serakah dimasa mudanya, dan begitu menikmati hidup di masa tuanya. Dan lalu hidupnya pun berakhir.


Ilustrasi di atas hanya pengandaian. Saya hanya berandai-andai, karena semua kita meyakini bahwa setiap orang telah memiliki jatah umur dan rezekinya masing-masing. Saya berpikiran, jangan-jangan jatah hidup kita juga dipengaruhi oleh cara kita mencari rezeki, jika kita terlalu serakah, nantinya justru di sisa hidup kita malah akan justru menderita, apalagi jika harta yang didapat itu bukan dengan cara yang halal. Tuhan sebagai pemiliknya tentu akan meminta balik dengan cara yang Ia kehendaki.

Tuesday, February 03, 2009

Mainan Baru


Biasanya selama ini internetan cuma pake nokia 6120c, cuma berhubung kasian sama si Nokia yang udah pernah kecemplung bak mandi dan sering banget digeber buat internetan sampe menjerit jerit kehabisan batere, terus ganti2 kartu antara IM2 broom dan Kartu Halo, maka diputuskanlah untuk lebih baik membeli modem 3.5G beneran.
Kemarin baru aja beli modem 3.5G Sierra Aircard 881u. Di Jakarta dan Bandung harganya udah dibawah sejutaan, tapi berhubung di balikpapan selalu ada koefisien pengali 40%, (yang berarti rata barang di Balikpapan lebih mahal daripada harga di pulau Jawa paling tidak 40%), maka harganya disini jadi 1.2 Juta.. hu hu....

Sempet ragu2 antara mau beli Huawei e220 atau beli Sierra 881u. Yang Huawei itu pasaran banget, apalagi dibundling sama IM2 dan telkomsel flash. Hampir semua orang pake dan semua bikin testimoni yang mendukung. DI BPN harganya bisa sampe 1.3 Juta untuk Huawei ini.

Berhubung pengen berhemat 100 ribu, jadi deh beli Sierra Aircard 881u aja... hehe.. lumayan buat beli susunya mika. Sebenernya di Internet udah nemu yang mau jual 750 ribu. Hanya berhubung posisi di balikpapan dan yang jual ada di Jakarta, ntar kalo alatnya ngga berfungsi malah jadi mahal buat ngadunya. Lagian sekalian ikut berkontribusi ke ekonomi balikpapan..:D
Sewaktu beli si engkonya bilang kalo modem ini bisa support sampai 7.2 Mbps, walopun ngga ngaruh juga karena dirumah cuma pake paket unlimited yang cuma sampe 256 kbps. Terus ditest sama dia di laptop di tokonya.. ternyata cuma 3.6Mbps aja.. hehehe... Si engkonya yang udah kadung promosi kalo tu modem bisa 7.2 Mbps jadi malu gitu. Dalem hati, nih si engko rada2 bego juga, kan kalo mau 7.2 Mbps tinggal disetting aja.
Nyampe di rumah, langsung deh gwa setting 7.2Mbps, (walapun tahu ngga ada pengaruhnya sama sekali juga.. cuma kali2 aja Indosat atau Telkomsel khilaf menjebolkan limit 256 kbpsnya melebihi kuota. Browsing-browsing bentar.. ternyata untuk modem ini ada fitur tambahannya lagi, yaitu ada GPS chip didalemnya.
Langsung aja cari update firmware, cari Software Garmin bajakan, download peta Indonesia, dan akhirnya..
Wuhuu... mama akhirnya deden punya GPS buat di mobil... tapi kemana2 bawa laptop.. duuh!




Thursday, January 29, 2009

Kenapa berebut di Jalan yang ramai?

Loket ke neraka penuh sesak...
Banyak manusia antri...
Rebut rebutan, cakar cakaran...
Takut gak kebagian kursi...

Tiket ke neraka mahal...
Harus merogoh kantong berjuta juta...
Untuk dapat ikut perjalan kesana...

Maksiat itu mahal...
Judi itu mahal...
Zina itu mahal...
Korupsi itu mahal...
Dusta itu mahal...

Tetap orang-orang berbondong menuju neraka...

Jalan ke syurga sunyi...
Sepiii...
Jalannya lebar, mulus dan bersih...
Tiketnya murah, tak perlu keluar uang banyak...
Loketnya bersih, ada AC,
Pelayannya ramah...

Tapi mengapa amat sedikit yang antri di loket ini???

Puasa itu murah...
Sholat itu murah...
Sedekah itu murah...
Senyum itu murah...
Jujur itu murah...

Ternyata Nafsu telah memutar balik semua tatapan...

Yang buruk terlihat indah...
Yang baik terlihat sukar...

Ditempat ini aku baru sadar...
Bahwa jalan ke syurga sepi...
Jalan ke neraka ramai...

This year

Baru saja melewati milestone 27 tahun.

Review 2008

1. The best part: Hadirnya Bebe Mika
2. Berencana pindah perusahaan ... 3 Interview... 3 Job Offer... dan kutolak ketiganya... hehe
3. 2 x eurotrip dalam setahun - menghabiskan uang negara hanya untuk melihat2 bangunan tua
4. 8 x bolak balik Balikpapan Bandung
5. 27 x minum teh botol di executive lounge
6. Dapat 5 x tawaran ikutan kartu kredit - hanya mengapply untuk bank niaga karena bebas iuran tahunan seumur hidup
7. Menghasilkan 5 sumur development di Peciko dan 1 sumur eksplorasi East Bekapai 1 penuh sukses
8. Kebagusan City...

Tahun 2009 ini

1. Akan melewati masa2 menyenangkan bermain bersama mika
2. Pemilu... mungkin kali ini bakal Golput saja saat pemilu caleg. Tak usah pula ikut Pemilu Presiden... pemenangnya sudah jelas siapa
3. Tahun ini tak akan pindah perusahaan
4. Mungkin tahun terakhir bersama Si Luna
5. Bakal ganti alamat rumah lagi tengah tahun
6. Bakal mengurangi kunjungan ke Bandung

Tuesday, January 20, 2009

Another Macroeconomy view on Indonesia





‘As Good As It Gets’
Indonesia is managing the global recession better than most, thanks to its tough finance minister.
http://www.newsweek.com/id/178817
By Solenn Honorine and George Wehrfritz NEWSWEEK
Published Jan 10, 2009
From the magazine issue dated Jan 19, 2009


Last month a financial tidal wave washed over Indonesia, but not the one kicked up by the global credit crisis. Money flooded into government coffers from individuals and corporations eager to avail themselves of Jakarta's "sunset policy" on tax delinquency, which forgave past evasions in exchange for good behavior going forward. The exact size of the surge isn't yet known, but economists estimate that tax receipts were up more than 50 percent for the year. "We saw quite a big jump" in revenue in December from "taxpayers who never existed [on the tax rolls] or want to correct mistakes made in the past," says the plan's creator, Finance Minister Sri Mulyani Indrawati. Indonesians, she adds, are honoring their tax obligations "in a much more accurate way."
The influx marks a major triumph for Indonesia's current government and, in particular, for the woman who put Jakarta's financial house in order. Over the past four years, Mulyani has helped dismantle the financial architecture of the crony capitalism built by strongman Suharto before his 32-year reign ended in 1998. She has pressed hard to slash debt, both public and private; pushed through a rollback of budget-busting fuel subsidies; and overseen sweeping reforms of the customs and tax authorities—positioning Indonesia to post the world's best (or at least the least bad) emerging-market growth story in 2009.
Unnoticed until recently, Jakarta's conservatism is now the envy of the developing world, and Mulyani is being hailed as a model regulator. "She could be the finance minister anywhere in the world," says James Castle, founder of the consultancy CastleAsia. "She's that good."

Largely to Mulyani's credit, the country's balance sheet is now among the most conservative in the world; government debt now sits at just 30 percent of GDP, down from more than 100 percent a decade ago, while Indonesia Inc. is far less leveraged than its peers elsewhere in Asia. Despite that relative austerity, growth is being driven both by commodities—Indonesia's traditional mainstay—and by strong domestic consumption from a population approaching 240 million. And neither the commodity bust (which has also driven down the price of the imported energy on which Indonesia depends) nor tighter global credit looks set to hobble a country that, from the household to the boardroom and cabinet chambers, is all but debt-free.

Indeed, Indonesia is one of just three major emerging economies forecast to grow faster than 4 percent in 2009. The other two—China and India—have decelerated more rapidly in recent months and face tougher policy challenges. Mulyani says Indonesia could expand by as much as 5.5 percent this year, which is barely slower than the 6 percent it clocked in 2008, and perhaps enough to pip one of its two Asian counterparts in this year's growth race. Not bad, considering that the country's economy collapsed in 1998, shrinking 18 percent in a single year. Wolfgang Fengler, a senior economist at the World Bank, says Jakarta's macroeconomic management is now "as good as it gets."
Indonesia owes its turnaround to an ensemble cast. President Susilo Bambang Yudhoyono has provided the political stability and pro-globalization vision that underpin today's successes. Boediono (who goes by one name) was a deft coordinating minister for economics until he handed the brief to Mulyani last May to head Indonesia's central bank, and Trade Minister Mari Pangestu deserves plaudits for kick-starting Indonesia's export economy. Yet Mulyani stands out for her toughness. She says her staff had to "swallow a lot of very bitter reality" during her first six months on the job. After landing there, for example, she confronted senior staff: "How can you send your daughter or your son to study abroad when you earn only this kind of salary? Where did you get the money?" To which she added: "You have to admit: we are all committing this crime." Her staffers still work evenings and weekends to meet her expectations, and she's been known to tangle with colleagues. Last year she lobbied intensively to ram through a deeply unpopular reduction in fuel subsidies that President Yudhoyono initially opposed. "She got her way because she is capable of playing politics," says Anton Gunawan, chief economist at Bank Danamon in Jakarta.

Yet by raising pay for bureaucrats, and not demonizing those who previously took payoffs to make ends meet, she has raised standards and steeled a reputation as an incorruptible reformer. Her message to her staff is simple and positive: "I only have one goal: I want the Indonesian people to trust us, this department, because this country will go nowhere if the people don't start to trust their own government." Though nobody would yet describe Indonesia as a model of transparency, the changes in its taxation and customs administrations have been profound, and in turn have enhanced Indonesia's growth potential to the point that "the world needs to update the way it thinks about the country," wrote Nicholas Cashmore, CLSA investment bank's Indonesia analyst, in mid-2008, declaring: "Southeast Asia's largest economy is in great shape." And thanks to Mulyani, Indonesia is garnering more respect by the day.