Contoh: Pertamina memberikan kontrak pengadaan jasa penyemenan sumur kepada Schlumberger dengan nilai kontrak US$ 2Juta dalam masa waktu 2 tahun.
Ada dua hal yang akan menyebabkan kontrak itu berakhir:
- Jika nilai total jasa yang sudah diberikan telah mencapai angka US$ 2 Juta, meskipun belum mencapai waktu 2 tahun.
- Waktu 2 tahun sudah terlewati, meskipun nilai total jasa yang diberikan belum mencapai US$ 2 Juta.
Lalu apa hubungannya dengan kontrak hidup??
Saya hanya membuat pengandaian. Mungkin saja sebenarnya setiap kita itu telah memiliki kontrak hidup yang dibuat dengan tuhan, yang mungkin termnya sama dengan contoh term kontrak kerjasama di atas.
Bahwa tuhan telah memberikan kontrak kepada setiap kita yang angkanya berbeda-beda.
Dan term kontrak itu berupa jatah waktu hidup dan jatah rezeki.
Misal: Kontrak hidup Mr.A, dengan jangka waktu hidup 82 tahun dan Jatah rezeki sebesar Rp. 50 miliar.
Kontrak hidup Mr. B, dengan jangka waktu hidup 75 tahun, dan jatah rezeki sebesar Rp. 120 miliar.
Kenapa kok setiap orang berbeda-beda. Karena kita tahu, Tuhan itu maha suka-suka. Semuanya ya terserah Dia, kan Dia yang maha mengatur.
Lalu cerita berlanjut, seandainya Mr. A dan Mr. B dilahirkan pada hari dan jam yang sama. Lalu 40 tahun kemudian, tentunya hidup Mr. A dan Mr. B tidak akan benar-benar sama.
Cerita Mr.A (Jatah umur 82 tahun, jatah rezeki Rp 50 Miliar)
Mr.A adalah orang yang pandai berbisnis, dan kemudian ia mencalonkan diri menjadi caleg muda diumurnya yang ke 35 tahun. Lalu terpilih sebagai wakil rakyat. Saat telah menjadi wakil rakyat, total kekayaannya yang dilaporkan mencapai Rp. 45 Miliar. ( Disini ia telah mendekati jatah rezeki yang diberikan kepadanya), lalu kemudian setelah menjadi wakil rakyat, Mr. A malah semakin serakah, ia terlibat kasus korupsi sebesar Rp. 15 Miliar dalam rencana pengalih fungsian hutan lindung menjadi daerah komersial. Lalu Mr.A pun melampaui jatah kontrak rezekinya dengan Tuhan sebesar 10 Miliar karena dia telah mengumpulkan harta sebesar 60 Miliar.
Lalu apa yang terjadi, sesuai dengan kesepakatannya dengan Tuhan, maka kontrak hidupnya harus berakhir. Mr. A kemudian masuk penjara, hartanya yang melebihi dari jatah kontraknya pun kemudian diambil kembali oleh tuhan dengan berupa bisnisnya yang hancur, lalu kesehatanya menurun, dan dia butuh uang bermilyar-milyar untuk berobat, hingga akhirnya ia jatuh miskin dan kemudian meninggal di usianya yang hanya baru 52 tahun, padahal kontrak awal jatah hidupnya adalah selama 82 tahun.
Cerita Mr.B (Jatah umur 75 tahun, jatah rezeki Rp 120 Miliar)
Lain cerita dengan Mr. A, Mr.B justru bukan orang yang serakah, dia hanya bekerja sebagai guru yang berbakti dengan sepenuh hati. Hingga usia 52 tahun total kekayaanya hanya mencapai angka tidak lebih dari Rp. 100 Juta saja. Mr. B juga adalah seorang yang rajin berolahraga dan menjaga kesehatan
Di usianya yang ke 53 tahun, tiba-tiba Mr.B dianugerahi sebagai guru teladan nasional dan mendapatkan hadiah sebesar 1 Miliar dari pemerintah, dan 10 Miliar lagi dari para sponsor dan Donatur. Mr. B lalu menjelma menjadi seorang yang berkelebihan. Kekayaanya sekarang mencapai 11 Miliar, dan masih jauh dari nilai kontrak hidupnya. Ia pun lalu menginvestasikan uangnya dengan tujuan agar dapat menampung dan membantu banyak tenaga kerja.
Lalu kekayaannya pun terus bertambah tahun demi tahun, sehingga memberikan hidup yang nyaman dan memerikan kesempatan kepadanya untuk beribadah dengan leluasa. Dengan harta yang banyak, tentunya akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi seseorang untuk beribadah dan menjadi orang yang banyak pahala.
Sampai di usianya 72 tahun, kekayaannya telah mencapai 120 Miliar. Ia tidak terlalu serakah dimasa mudanya, dan begitu menikmati hidup di masa tuanya. Dan lalu hidupnya pun berakhir.
Ilustrasi di atas hanya pengandaian. Saya hanya berandai-andai, karena semua kita meyakini bahwa setiap orang telah memiliki jatah umur dan rezekinya masing-masing. Saya berpikiran, jangan-jangan jatah hidup kita juga dipengaruhi oleh cara kita mencari rezeki, jika kita terlalu serakah, nantinya justru di sisa hidup kita malah akan justru menderita, apalagi jika harta yang didapat itu bukan dengan cara yang halal. Tuhan sebagai pemiliknya tentu akan meminta balik dengan cara yang Ia kehendaki.




